Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah sebuah perguruan
tinggi negeri yang berkedudukan di Kota Bandung. Nama ITB diresmikan pada
tanggal 2 Maret 1959[3]. Sejak tanggal 14 Oktober 2013 ITB menjadi Perguruan
Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) yang memiliki otonomi pengelolaan dalam
akademik dan non-akademik.[9] ITB telah memiliki 27 program studi yang
terakreditasi secara internasional (sebelas dari ABET, sebelas dari
ASIIN).[10][11][12]
Kampus utama ITB saat ini merupakan lokasi dari sekolah
tinggi teknik pertama di Indonesia[note 4] sekaligus lembaga pendidikan tinggi
pertama di Hindia Belanda.[note 5] Walaupun masing-masing institusi pendidikan tinggi
yang mengawali ITB memiliki karakteristik dan misi masing-masing, semuanya
memberikan pengaruh dalam perkembangan yang menuju pada pendirian ITB.
Institut Teknologi Bandung
Sejarah
Lihat pula: Technische Hoogeschool te Bandoeng; Bandung
Kogyo Daigaku; Sekolah Tinggi Teknik Bandung; Technische Faculteit,
Nood-Universiteit van Nederlandsch Indie; Universiteit van Indonesie te
Bandoeng; Universitas Indonesia Bandung; dan Kampus ITB Ganesha
Technische
Hoogeschool 1929
Aula Barat ITB, bangunan peninggalan masa penjajahan Belanda
dengan bentuk atapnya yang khas karya arsitek Henri Maclaine Pont.
Kurun waktu sejarah pendirian ITB dapat dibagi dalam
periode:
Technische Hoogeschool te Bandoeng (THS - 1920-1942)
Institute of Tropical Scientific Research (1942-1945)
Bandoeng Koogyo Daigaku (1944-1945)
Sekolah Tinggi Teknik Bandung (1945-1946)
Technische Faculteit, Nood-Universiteit van Nederlandsch
Indie (1946-1947)
Faculteit van Technische Wetenschap dan Faculteit der Exacte
Wetenschap Universiteit van Indonesie te Bandoeng (1947-1950)
Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam
Universitas Indonesia Bandung (1950-1959)
Institut Teknologi Bandung (1959-sekarang)
Sejarah Institut Teknologi Bandung (ITB) bermula sejak awal
abad ke-20, atas prakarsa masyarakat penguasa kala itu. Tujuan awal
pendiriannya adalah untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknik yang menjadi sulit
karena terganggunya hubungan antara negeri Belanda dan wilayah jajahannya di
kawasan Nusantara, sebagai akibat pecahnya Perang Dunia Pertama. Technische
Hoogeschool te Bandoeng (sering disingkat menjadi TH te Bandoeng, TH Bandung,
atau THS) berdiri tanggal 3 Juli 1920 sebagai sekolah tinggi pertama di Hindia
Belanda.[note 6] TH Bandung dibuka pertama kali dengan satu fakultas yaitu de
Faculteit van Technische Wetenschap yang hanya mempunyai satu bagian yaitu de
afdeeling der Weg- en Waterbouwkunde. Kampus ITB merupakan tempat di mana
presiden Indonesia pertama, Soekarno, meraih gelar insinyurnya dalam bidang
Teknik Sipil. Lama studi untuk menjadi insinyur adalah empat tahun. Sampai
dengan ditutupnya pada tahun 1942, THS memiliki tiga bagian (afdeeling) yaitu
Sipil (1920), Kimia (1940), Mesin dan Listrik (1941)[note 7]; namun dua bagian
terakhir belum sempat meluluskan seorang insinyur.
Pada masa penjajahan Jepang, upaya untuk membuka kembali
perkuliahan TH Bandung ditolak secara tegas, namun kegiatan penelitian di
laboratorium-laboratorium yang ada di kampus TH Bandung diizinkan. Komunitas
laboratorium tersebut dinamakan Institute of Tropical Scientific Research
(Lembaga Penelitian Ilmiah Tropis) yang diawaki oleh banyak staf akademik TH
Bandung.
Pada tanggal 1 April 1944, THS dibuka kembali oleh
Pemerintah Militer Jepang dengan nama バンドン工業大学 (Bandung Kōgyō
Daigaku)[17]:26 setelah ditutup sejak 8 Maret 1942 dengan menyerahnya Hindia
Belanda di Kalijati. Bandoeng Koogyo Daigaku (BKD) membuka tiga bagian yaitu
Teknik Sipil (Dobubuka), Teknik Kimia (Oyakagabuka), Listrik dan Mesin (Denki
dan Kikaika). Lama studi untuk menjadi insinyur (kogakusi) adalah tiga tahun,
mengikuti kurikulum yang diterapkan di Tokyo Kogyo Daigaku (Tokyo Institute of
Technology) pada masa itu.
Kemudian pada masa kemerdekaan Indonesia, pada bulan Agustus
1945, namanya diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik Bandung (STT Bandung) yang
membuka tiga bagian yaitu Bagian Bangunan Jalan dan Air, Bagian Kimia, dan
Bagian Mesin dan Listrik dengan lama studi empat tahun. Pada tahun 1946, STT
Bandung dipindahkan ke Yogyakarta namun karena serbuan tentara Belanda ke
Yogyakarta, pada tanggal 19 Desember 1948 STT Bandung di Yogyakarta terpaksa
ditutup. Beberapa waktu kemudian sekolah itu dibuka kembali pada tahun 1949
dengan hanya menyelenggarakan Bagian Sipil saja dan menjadi cikal bakal
lahirnya Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.
Pada tanggal 21 Januari 1946, NICA mendirikan
Nood-Universiteit van Nederlandsch Indie - Universitas Darurat Hindia Belanda
di mana salah satu fakultasnya adalah Technische Faculteit - Fakultas Teknik -
sebagai pengganti STT Bandung di lokasi Kampus THS dulu. Sebagian besar
pengajarnya adalah para mantan pengajar THS yang baru saja dibebaskan dari kamp
interniran Jepang[5]:14.
Pada tanggal 12 Maret 1947, NICA mendirikan Universiteit van
Indonesie yang berpusat di Jakarta. Kampus THS berikut para pengajarnya
dijadikan Faculteit van Technische Wetenschap. Pada 6 Oktober 1947, Faculteit
van Exacte Wetenschap berdiri.
Ini kemudian menjadi Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti
dan Ilmu Alam Universitas Indonesia di Bandung sejak 2 Februari 1950.
Pada tanggal 2 Maret 1959, didorong oleh gagasan dan
keyakinan yang dilandasi semangat perjuangan Proklamasi Kemerdekaan serta
wawasan ke masa depan, Pemerintah Indonesia meresmikan berdirinya Institut
Teknologi di Kota Bandung pada tanggal 2 Maret 1959 berdasarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 6 Tahun 1959 tentang Pendirian Institut Teknologi (Lembaran
Negara Tahun 1959 Nomor 9 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 1733) yang
ditetapkan tanggal 28 Februari 1959. Institut Teknologi yang dipimpin oleh
Presiden Institut Teknologi ini (Pasal 4) mempunyai kedudukan hukum sebagai
Universitas yang pada awalnya terdiri atas departemen ilmu teknik; departemen
ilmu pasti dan ilmu alam; dan departemen ilmu kimia dan ilmu hayat (Pasal 1 dan
Pasal 2) - departemen pada waktu itu mempunyai kedudukan sebagai Fakultas.
Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam Universitas Indonesia
secara resmi memisahkan diri (Pasal 3) menjadi Institut Teknologi Bandung
(ITB). Upacara peresmiannya sendiri dipimpin oleh Presiden RI Ir. Soekarno.
Berbeda dengan harkat pendirian lima perguruan tinggi teknik
sebelumnya di kampus yang sama, Institut Teknologi Bandung lahir dalam suasana
penuh dinamika mengemban misi pengabdian ilmu pengetahuan dan teknologi, yang
berpijak pada kehidupan nyata di bumi sendiri bagi kehidupan dan pembangunan
bangsa yang maju dan bermartabat.
Kurun dasawarsa pertama tahun 1960-an ITB mulai membina dan
melengkapi dirinya dengan kepranataan yang harus diadakan. Dalam periode ini
dilakukan persiapan pengisian-pengisian organisasi bidang pendidikan dan
pengajaran, serta melengkapkan jumlah dan meningkatkan kemampuan tenaga
pengajar dengan penugasan belajar ke luar negeri.
Kurun dasawarsa kedua tahun 1970-an ITB diwarnai oleh masa
sulit yang timbul menjelang periode pertama. Satuan akademis yang telah
dibentuk berubah menjadi satuan kerja yang juga berfungsi sebagai satuan
sosial-ekonomi yang secara terbatas menjadi institusi semi-otonom. Tingkat
keakademian makin meningkat, tetapi penugasan belajar ke luar negeri makin
berkurang. Sarana internal dan kepranataan semakin dimanfaatkan.
Kurun dasawarsa ketiga tahun 1980-an ditandai dengan
kepranataan dan proses belajar mengajar yang mulai memasuki era modern dengan
sarana fisik kampus yang makin dilengkapi. Jumlah lulusan sarjana makin
meningkat dan program pasca sarjana mulai dibuka. Keadaan ini didukung oleh
makin membaiknya kondisi sosio-politik dan ekonomi negara.
Kurun dasawarsa keempat tahun 1990-an perguruan tinggi
teknik yang semula hanya mempunyai satu jurusan pendidikan itu, kini memiliki
dua puluh enam Departemen Program Sarjana, termasuk Departemen Sosioteknologi,
tiga puluh empat Program Studi S2/Magister dan tiga Bidang Studi S3/Doktor yang
mencakup unsur-unsur ilmu pengetahuan, teknologi, seni, bisnis dan ilmu-ilmu
kemanusiaan.
Kini, dengan suplai tahunan pelajar-pelajar Indonesia
terbaik, Institut Teknologi Bandung merupakan salah satu pusat ilmu sains,
teknologi, dan seni terbaik di Indonesia.
Institut Teknologi Bandung juga mendukung para pelajar dan
aktivitas sosial mereka dengan mendukung himpunan mahasiswa yang ada di setiap
departemen.
Setiap tahunnya, Institut Teknologi Bandung memilih seorang
mahasiswa terbaik untuk dikirim ke pemilihan mahasiswa teladan nasional.
Ganesha Prize adalah nama penghargaan untuk mereka yang mendapatkan gelar
mahasiswa terbaik ini. Penghargaan ini biasanya diberikan secara resmi pada
seremoni penerimaan mahasiswa baru.
Sejak tanggal 26 Desember 2000 ITB menjadi Perguruan Tinggi
Badan Hukum Milik Negara (PT BHMN) sebagaimana diatur Peraturan Pemerintah
Nomor 155 Tahun 2000.
Sejak tanggal 12 April 2012 ITB menjadi Perguruan Tinggi
yang diselenggarakan oleh Pemerintah (PTP) sebagaimana diatur Peraturan
Presiden Nomor 44 Tahun 2012.
Sejak tanggal 14 Oktober 2013 ITB menjadi Perguruan Tinggi
Negeri Badan Hukum (PTN BH) yang memiliki otonomi pengelolaan dalam akademik
dan non-akademik sebagaimana diatur Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2013
tentang STATUTA INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG.
Kampus
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kampus ITB Ganesha
Menyadari akan keterbatasan lahan Kampus Ganesha dikaitkan
dengan meningkatnya kebutuhan sarana dan prasarana untuk mewujudkan visi
akademiknya, maka pada sekitar tahun 2010 diterapkanlah kebijakan ITB
multikampus yang memunculkan istilah "On-G campus" dan "Off-G
campus". Istilah "On-G campus" merujuk pada Kampus ITB Ganesha
sedangkan kampus-kampus ITB di luar itu disebut sebagai "Off-G
campus". Kampus ITB Off-G yang sudah terwujud dan mulai dibangun adalah
Kampus ITB Jatinangor.[18]:9 "ITB Off-G campus" lainnya yang sedang
direncanakan adalah Kampus ITB Bekasi dan Kampus ITB Walini.
Asrama mahasiswa, perumahan dosen, dan kantor pusat
administrasi tidak terletak di kampus utama namun masih dalam jangkauan yang
mudah untuk ditempuh. Fasilitas yang tersedia di kampus di antaranya toko buku,
kantor pos, kantin, bank, dan klinik.
Selain ruangan kuliah, laboratorium, bengkel dan studio, ITB
memiliki sebuah galeri seni yaitu Galeri Soemardja, fasilitas olahraga, dan
sebuah Campus Center. Di dekat kampus juga terdapat Masjid Salman untuk
beribadah dan aktivitas keagamaan umat Islam di ITB. Untuk mendukung
pelaksanaan aktivitas akademik dan riset, terdapat fasilitas-fasilitas
pendukung akademik, di antaranya Perpustakaan Pusat (dengan koleksi sekira
150.000 buku dan 1000 judul jurnal), Sarana Olah Raga, Sasana Budaya Ganesha,
Pusat Bahasa, pusat layanan komputer (ComLabs). ITB juga memiliki Observatorium
Bosscha (salah satu fasilitas dari Kelompok Keahlian Astronomi FMIPA), terletak
11 kilometer di sebelah utara Bandung.
Fakultas dan Sekolah
Fakultas/sekolah dan program studi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
Matematika (MA) - S1, S2, S2 Pengajaran, dan S3
Fisika (FI) - S1, S2, S2 Pengajaran, dan S3
Kimia (KI) - S1, S2, S2 Pengajaran, dan S3
Astronomi (AS) - S1, S2, S2 Pengajaran, dan S3
Aktuaria - S2
Sains Komputasi - S2
Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH)
Biologi (BI) - S1, S2, dan S3
Mikrobiologi (BM) - S1
Rekayasa Hayati (BE) - S1
Rekayasa Pertanian (BA) - S1
Rekayasa Kehutanan (BW) - S1
Biomanajemen - S2
Bioteknologi - S2
Sekolah Farmasi (SF)
Sains dan Teknologi Farmasi (FA) - S1
Farmasi Klinis dan Komunitas (FK) - S1
Program Studi Profesi Apoteker
Program Pasca Sarjana Farmasi - S2, dan S3
Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Teknik Geologi (GL) - S1, S2, dan S3
Teknik Geodesi dan Geomatika (GD) - S1, S2, dan S3
Meteorologi (ME) - S1
Oseanografi (OS) - S1
Teknik Air Tanah - S2
Sains Kebumian - S2, dan S3
Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM)
Teknik Pertambangan (TA) - S1, S2, dan S3
Teknik Perminyakan (TM) - S1, S2, dan S3
Teknik Geofisika (TG) - S1, S2, dan S3
Teknik Metalurgi (MG) - S1, S2, dan S3
Teknik Geothermal - S2
Fakultas Teknologi Industri (FTI)
Teknik Kimia (TK) - S1, S2, dan S3
Teknik Fisika (TF) - S1, S2, S2 Instrumentasi dan Kontrol,
dan S3
Teknik Industri (TI) - S1, S2, dan S3
Manajemen Rekayasa Industri (MRI) - S1
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD)
Teknik Mesin (MS) - S1, S2, dan S3
Aeronotika dan Astronotika (AE) - S1, S2, dan S3
Teknik Material (MT) - S1, S2, dan S3
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)
Teknik Elektro (EL) - S1, S2, dan S3
Informatika (IF) - S1, S2, dan S3
Teknik Tenaga Listrik (EP) - S1
Teknik Telekomunikasi (ET) - S1
Sistem dan Teknologi Informasi (II) - S1
Teknik Biomedis (EB) - S1
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
Teknik Sipil (SI) - S1, S2, dan S3
Teknik Lingkungan (TL) - S1, S2, dan S3
Teknik Kelautan (KL) - S1 dan S2
Rekayasa Infrastruktur Lingkungan (IL) - S1
Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air (SA) - S1
Program Magister Sistem dan Teknik Jalan Raya - S2
Program Magister Pengelolaan Sumber Daya Air - S2
Program Magister Pengelolaan Infrastruktur Air dan Sanitasi
- S2
Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
(SAPPK)
Arsitektur (AR) - S1, S2, dan S3
Perencanaan Wilayah dan Kota (PL) - S1, S2, dan S3
Program Magister Studi Pembangunan - S2
Program Magister & Doktor Transportasi - S2, S3
Program Magister Studi Pertahanan - S2
Program Magister Rancang Kota - S2
Program Magister Perencanaan Kepariwisataan - S2
Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)
Seni Rupa (SR) - S1
Kriya (KR) - S1
Desain Komunikasi Visual (DKV) - S1
Desain Interior (DI) - S1
Desain Produk (DP) - S1
Program Magister Seni Rupa - S2
Program Magister Desain - S2
Program Doktor Ilmu Seni Rupa dan Desain - S3
Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)
Manajemen (MB) - S1
Program Magister Sains Manajemen - S2
Program Magister Administrasi Bisnis - S2
Program Doktor Sains Manajemen - S3
Plaza Widya ITB dengan Gunung Tangkuban Perahu di kejauhan,
perhatikan bentuk atap khas bangunan di ITB.
Bangunan perpustakaan pusat ITB
Fakultas adalah unit pendidikan di ITB yang memiliki
beberapa program studi (dulu departemen), baik di tingkat sarjana, magister,
maupun doktor. Sementara itu, sekolah adalah unit pendidikan yang memiliki
beberapa program studi dengan bidang keilmuan yang berdekatan.
Misalnya, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB
memiliki 6 program studi, yaitu di lingkup keelektroteknikan (Teknik Elektro,
Telekomunikasi, Biomedis, dan Tenaga Listrik), serta di lingkup ilmu komputer
(Teknik Informatika dan Sistem Teknologi Informasi). Namun, cakupan keilmuannya
dianggap cukup dekat. Oleh karena itu, meskipun jumlah program studi di
dalamnya semakin banyak, istilah 'sekolah' tersebut tidak diubah menjadi
'fakultas'.
Secara administratif tidak ada perbedaan yang berarti antara
fakultas dan sekolah; perbedaan fakultas dengan sekolah di ITB hanyalah sekadar
terminologi. Keduanya dipimpin oleh seorang Dekan dengan dibantu oleh 2 orang
Wakil Dekan, yaitu Wakil Dekan bidang Akademik dan Wakil Dekan bidang Sumber
Daya.
Akreditasi
Setelah bertahun-tahun mendapatkan akreditasi dari Badan
Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dengan nilai A untuk sebagian
besar program studinya, pada tahun 2011 dua program studi ITB meraih akreditasi
internasional dari Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET)
yang merupakan badan akreditasi independen terkemuka di Amerika Serikat
(AS).[11] Hingga saat ini ITB telah memiliki sebelas program studi yang
terakreditasi ABET, yaitu:
Program Studi Teknik Elektro (2011);
Program Studi Teknik Kelautan (2011);
Program Studi Teknik Fisika (2012);
Program Studi Teknik Kimia (2012);
Program Studi Teknik Lingkungan (2014);
Program Studi Teknik Industri (2014);
Program Studi Teknik Informatika (2014);
Program Studi Teknik Perminyakan (2015);[19]
Program Studi Teknik Sipil (2015).[19]
Program Studi Teknik Pertambangan (2017);
Program Studi Manajemen Rekayasa Industri (2017);
Sampai dengan tahun 2018 dari seluruh perguruan tinggi dan
fakultas teknik di Indonesia, sebelas program studi di ITB, satu program studi
di ITS, satu program studi di IPB, satu program studi di UII, dan tiga program
studi di Universitas Bina Nusantara yang memiliki akreditasi ABET. Dengan
diraihnya akreditasi ABET merupakan jaminan bagi para calon mahasiswa dan orang
tua untuk memilih institusi pendidikan yang berkualitas baik secara nasional
maupun internasional.
Dengan akreditasi ABET tersebut, lulusan ITB mulai tahun
2012 akan mendapatkan ijazah tak hanya akreditasi BAN-PT tetapi juga terdapat
logo ABET yang membuktikan bahwa lulusan ITB telah terdidik dengan standar
internasional, tidak hanya terlembaga tetapi juga telah tersertifikasi secara
resmi.
Adanya akreditasi ini juga manfaatnya dapat dirasakan oleh
para pengguna lulusan ITB. Anak didik ITB memiliki standar profesional kerja
yang dapat disamakan dengan lulusan luar negeri ternama. Sehingga perusahaan
penerima mereka dapat lebih yakin terhadap almamater mereka.
Pada tahun 2013 program studi Kimia FMIPA telah meraih
akreditasi internasional dari The Royal Society of Chemistry (RSC) yang
merupakan lembaga akreditasi terkemuka di Inggris (UK); program studi
Arsitektur SAPPK mendapatkan akreditasi dari Korea Architectural Acrcediting
Board (KAAB); program studi Teknik Geodesi FITB mendapatkan akreditasi dari
AUN-QA; program studi MBA, Sekolah Bisnis dan Manajemen mendapatkan akreditasi
dari ABEST21; program studi Teknik Metalurgi mendapatkan akreditasi dari Japan
Accreditation Board for Engineering Education (JABEE).
Pada tahun 2015 tujuh program studi dari lingkungan FMIPA,
SITH, dan Sekolah Farmasi mendapatkan akreditasi dari ASIIN e. V.. Hingga tahun
2018, ITB telah memiliki sebelas program studi yang terakreditasi ASIIN e. V.,
yaitu:
Program Studi Fisika;
Program Studi Matematika;
Program Studi Astronomi;
Program Studi Biologi;
Program Studi Mikrobiologi;
Program Studi Sains dan Teknologi Farmasi;
Program Studi Farmasi Klinik dan Komunitas;
Program Studi Teknik Mesin;
Program Studi Aeronotika dan Astronotika;
Program Studi Teknik Material;
Program Studi Teknik Geofisika.
Reputasi
Berdasarkan tingkat kepopuleran perguruan tinggi di dunia
maya, dengan jumlah sampel 335 institusi perguruan tinggi oleh 4icu.org untuk
tahun 2012, ITB masih menjadi perguruan tinggi terpopuler di Indonesia.Hingga
pertengahan Juli 2012, ITB menempati peringkat ke-13 di lingkup Asia, dan
peringkat ke-82 di dunia (satu-satunya yang mewakili Indonesia di dalam Top 200
Colleges and Universities in the world).
Sedangkan menurut penilaian lembaga pemeringkatan perguruan
tinggi asal Inggris tahun 2009, THE-QS, ITB menempati peringkat 80 di dunia
dalam bidang Teknik dan IT, satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang
mampu masuk dalam 100 besar pemeringkatan. Peringkat pertama sendiri diduduki
oleh MIT. Kemudian pada tahun 2011 dalam bidang yang sama, peringkat yang di
tempati ITB menjadi peringkat 100 di dunia.
Dari tahun 2007 hingga saat ini, khusus untuk bidang
Engineering & Technology dan Natural Sciences, ITB menempati peringkat
pertama di Indonesia dan satu-satunya kampus di Indonesia yang memperoleh
"bintang empat" dari QS World University Rankings sedangkan untuk
bidang Art & Design, ITB menempati peringkat 100 besar perguruan tinggi
terbaik dunia.
Pada tahun 2015 dan 2017, QS World University Rankings di
bidang Art & Design memberikan ITB peringkat ke-51 di dunia atau ke-8 di
Asia dan peringkat pertama di Indonesia.
Pada tahun 2009, QS Asian University Rankings di bidang
Engineering & Technology memberikan ITB peringkat ke-21 di Asia[35] dan
peringkat pertama di Indonesia, sementara di bidang Natural Sciences ITB menempati
peringkat ke-27 di Asia dan peringkat pertama di Indonesia.
Pada tahun 2010, QS Asian University Rankings di bidang
Engineering & Technology memberikan ITB peringkat ke-30 di Asia dan
peringkat pertama di Indonesia, sementara di bidang Natural Sciences ITB menempati
peringkat ke-35 di Asia dan peringkat pertama di Indonesia.
Pada tahun 2011, QS Asian University Rankings di bidang
Engineering & Technology memberikan ITB peringkat ke-26 di Asia dan
peringkat pertama di Indonesia, sementara di bidang Natural Sciences ITB menempati
peringkat ke-41 di Asia dan peringkat pertama di Indonesia.
Pada tahun 2012, QS Asian University Rankings di bidang
Engineering & Technology memberikan ITB peringkat ke-27 di Asia dan
peringkat pertama di Indonesia, sementara di bidang Natural Sciences ITB menempati
peringkat ke-35 di Asia dan peringkat pertama di Indonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar